Perokok adalah Korban Budaya dan Industri

Perokok adalah Korban Budaya dan Industri

Perokok itu bukanlah musuh, akan tetapi perokok adalah korban budaya dan kampanye industry. Tidak heran bila pengguna rokok saat ini tidak pandang bulu dan dari berbagai profesi.

“Bahkan profesi dokter pun tak jarang masih ada yang merokok. Saya kira hampir semua perokok menginginkan berhenti, namun prosesnya yang sulit,” kata  Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan AIK, Hilman Latief PhD ketika membuka seminar ‘Bahaya Rokok dan Terapi Berhenti Merokok yang Efektif’ Sabtu (20/5/2017) di Aula Asrama Mahasiswa University Residence Putra (Unires) UMY.

Screenshot_1

Dalam seminar sekaligus bakti sosial Klinik Pratama Firdaus UMY beserta Muhammadiyah Tobacco Control Centre (MTCC)  Hilman menyebut bila Indonesia menempati posisi ketiga jumlah konsumen rokok. Menurut data the Tobacco Atlas 2015, posisi Indonesia setelah China dan India. “Jumlah perokok mencapai 50,6 juta orang, meningkat pesat untuk semua umur dan dari tahun ke tahun,” katanya.

Diakui, upaya menghentikan kebiasaan merokok perlu perjuangan dan kerja keras. Hal tersebut karena perokok menjadi sebuah budaya yang biasa dilakukan oleh masyarakat. “Merokok sudah menjadi sebuah budaya di Indonesia. Oleh karena itu, dalam perkembangan saat ini telah banyak pendekatan bagaimana tradisi merokok bisa dikurangi,” tambahnya. Selain budaya,jumlah perokok yang terus meningkat juga tidak lepas dari pengaruh iklan rokok yang kian beragam.

Narasumber yang juga Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMY  Muchlis Lc MA menyebutkan bahwa budaya merokok acap ditemui adalah acara di masyarakat. “Tradisi lek-lek-an atau begadang saat kelahiran bayi di daerah pedesaan sering ditemani rokok,” katanya.

Selain makanan, menurut Muchlis, tuan rumah akan menyediakan rokok sebagai pelengkap lek-lek-an tersebut. Padahal bila semalaman dan banyak tamu, asap rokok ini disebutnya bisa berbahaya bagi bayi yang baru lahir.

Selain itu ditegaskan pula bahwa “Merokok bukan hanya membahayakan diri sendiri, namun juga berdampak pada keluarga dan sekitarnya,”

( Sumber : Kedaulatan Rakyat.com )

Screenshot_2

BANNER FREE MEMBER

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ingin dapat income dari bisnis online, hubungi : Suprapto WA/SMS 0812.2737.569 atauklik disini